Pelabuhan Sunda Kelapa yang berlokasi di pesisir utara Jakarta tampaknya perlu dibenahi secara menyeluruh.
Bayangkan, bau asin bercampur sampah menyelimuti wilayah pinggir lautnya. Wilayah seluas 50 hektar itu tampak tidak terurus.
Jika siang hari, panas terik matahari sangat menyengat kulit. Ditambah lagi, kondisi pelabuhan yang kering dan berdebu sangat terasa.
Kontainer besar-besar berada di dalam pelabuhan tersebut, namun infrastruktur jalan juga sudah bolong-bolong.
Jangan harap jika menaiki kendaraan di sana akan merasakan sensasi jalanan yang mulus.
Siapapun yang ke sana, Anda akan ‘berkelahi’ dengan jalan yang penuh lubang untuk menghindari marabahaya.
Begitulah kondisi Pelabuhan Sunda Kelapa yang sempat dikunjungi Komunitas Terekam Jejak pada Minggu, 7 Juni 2026.
Pelabuhan Sunda Kelapa kini diambang kekhawatiran.
Bagaimana tidak, dari penjelajahan yang dilakukan, terlihat bahwa air laut sudah meluber memasuki dataran pelabuhan.
Air laut itu meluap setinggi sepuluh centimeter dan selebar dua meter.
Dinding batas pelabuhan sudah tidak mampu lagi menopang air laut yang semakin ekspansif.
Dinding itu bocor sehingga meluapkan air laut.
Komunitas Terekam Jejak mengamati kondisi pelabuhan tersebut. Memang, aktivitas pelabuhan sehari-hari masih berlangsung dengan lancar.


Kegiatan bongkar-muat barang dan transportasi penumpang berjalan sebagaimana mestinya.
Para nelayan juga masih beroperasi. Mereka menaruh kapal-kapal geteknya di pinggir sekitar pelabuhan.
Itu tanda bahwa kegiatan sehari-hari masih berjalan baik.
Akan tetapi, keadaan infrastrukturnya meresahkan.
Jika dibandingkan dengan Pelabuhan Tanjung Priok, kondisi Pelabuhan Sunda Kelapa masih jauh panggang dari api.
Pelabuhan Tanjung Priok sudah memiliki kekuatan infrastruktur yang kokoh.
Jalan mulus, wilayah lebih luas, gerai usaha hidup, dan lebih manusiawi.
Sedangkan, Sunda Kelapa dari sisi infrastruktur jalan saja sangat bermasalah.
Padahal, Pelabuhan Sunda Kelapa ini merupakan pelabuhan legendaris dalam sejarah Jakarta.
Pelabuhan ini terdaftar sebagai kawasan cagar budaya kota tua yang tertuang dalam landasan hukum Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 36 Tahun 2014; lalu, ditetapkan pula oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Pelindo sebagai pelabuhan heritage sejak 1999.
Jauh sebelum lahirnya Pelabuhan Tanjung Priok pada abad 19, Pelabuhan Sunda Kelapa justru mengawali lahirnya wilayah Betawi ini.
Nama Sunda Kelapa diabadikan sebagai nama Jakarta pada masa lampau, selain nama Jayakarta dan Batavia.
Pelabuhan ini sudah ada sejak abad ke-5. Selama berabad-abad, pelabuhan ini menjadi pintu utama masuknya bangsa-bangsa dari berbagai belahan dunia.
Lokasinya yang di tengah nusantara antara Maluku dan Malaka menempatkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan strategis.
Oleh sebabnya, mudah sekali bagi pelabuhan ini go internasional pada zamannya.
Pada masa abad 16, ketika pelabuhan ini dikuasai generasi keturunan Fatahillah dari Kesultanan Cirebon, pelabuhan ini sudah menjadi pelabuhan internasional di bawah naungan Kesultanan Banten.
Bahkan, Bangsa Belanda sejak masa VOC pun tertarik dengan pelabuhan ini hingga akhirnya menduduki wilayahnya menjadi milik mereka.
Caranya dengan mengusir penguasa setempat, yakni penguasa pribumi.
Kalau kita mengamati dari sisi sejarah, maka dapat dipahami bahwa nilai Pelabuhan Sunda Kelapa ini sangat tinggi.
Walaupun, kita tidak dapat mengukur sejauh mana nilai tersebut lantaran sifatnya yang intangible.
Namun, berkaca dari sejarah, kehadiran pelabuhan ini merupakan suatu historisitas yang tidak bisa dihindari.
Alangkah sayangnya jika pelabuhan legendaris itu terbengkalai pada masa kini.
Melihat kejayaan masa lalu, seharusnya Pelabuhan Sunda Kelapa bisa direstorasi kembali agar bisa lebih terawat sebagai pelabuhan yang layak dan cagar budaya yang terurus.
Dengan begitu, Sunda Kelapa menjadi tidak rusak, terutama dari sisi bangunan dan kawasan memorial.

Pelabuhan ini bisa menjadi kawasan wisata sejarah yang memikat hati pengunjung dengan perawatan yang ada tanpa mengubah dasar bangunan.
Untuk saat ini, harapan tersebut masih jauh sekali. Tetapi, kita wajib percaya akan ada sesuatu yang indah untuk Pelabuhan Sunda Kelapa pada kemudian hari.
Setidaknya, pelaporan dari Komunitas Terekam Jejak ini bisa menjadi catatan penting bagi Pemerintah Jakarta untuk memperhatikan pelabuhan tersebut agar bisa lebih baik.
