Menjelajahi Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai alternatif wisata bisa menjadi opsi menarik untuk menyegarkan pikiran. Pengalaman ini ditangkap Komunitas Terekam Jejak yang berkegiatan bersama dengan Komunitas Teman Fotografi pada Minggu, 7 Juni 2026.

Pelabuhan Sunda Kelapa bisa menjadi spot berlayar yang seru dengan pengalaman lokal yang menarik. Empat puluh orang menjadi saksi atas pengalaman napak tilas tersebut.

Pelabuhan Sunda Kelapa bukanlah pelabuhan biasa. Pelabuhan ini adalah legenda dari sejarah Jakarta.

Sejak abad kelima, eksistensi pelabuhan ini yang menghasilkan tarik-menarik kepentingan para penguasa dari masa Hindu-Budha, Islam, hingga kolonialisme yang merusak sendi-sendi Bangsa.

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi barometer berkembangnya sejarah Jakarta di lautan hingga hari ini.

Mengusung tema “Sailing Sunda Kelapa”, kami melakukan penelusuran lebih jauh di sekitar wilayah Sunda Kelapa, Jakarta pesisir utara, dengan napak tilas.

Kegiatan dilakukan pada sore hari, jam 5, ketika matahari mulai terasa hangat dengan kisaran suhu 32 derajat Celcius.

Kondisi di pelabuhan tersebut memang agak kering dan memiliki tingkat kecerahan tinggi. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan kami untuk menjelajahi Sunda Kelapa.

Di sana, kami melihat kondisi nyata dari pesisir Jakarta. Pelabuhan tersebut sudah rentan dengan luapan banjir.

Ketika kami di sana, air laut sudah menembus dinding semen pelabuhan hingga 3 meter dari pinggir laut, dengan kedalaman 10 centimeter.

Pelabuhan sudah bocor. Yang kami rasakan adalah bau asin yang menyengat, disertai luapan air yang kian melebar, sehingga menandai bahwa ada kekhawatiran yang cukup mendalam tentang masa depan pesisir Jakarta.

Meskipun demikian, kegiatan sehari-hari di pelabuhan tetap berjalan seperti biasa. Arus keluar masuk barang dan transportasi penumpang tetap berjalan sebagaimana mestinya, terlepas dari kekurangan pelabuhan tersebut.

Kami pun menyusuri lautan pesisir Jakarta dengan berlayar. Berlayar memang menjadi acara puncak kami, selain menyusuri beberapa tempat yang menarik di sekitar wilayah tersebut.

Pengalaman berlayar menjadi pengalaman unik bagi kami. Sebab, pelayaran ini memperlihatkan panorama Jakarta di tengah label kotanya sebagai metropolitan.

Pelayaran Sunda Kelapa ini ternyata menyingkap kisah Jakarta yang lain, di tengah germerlapnya label metropolitan.

Sekaligus juga, pelayaran memperlihatkan kisah orang-orang kecil yang kerapkali dilupakan dunia.

Kami berlayar dengan gaya tradisional. Kapal yang kami naiki bukanlah speed boat atau kapal modern yang layak, melainkan kapal getek dengan modifikasi mesin sederhana.

Dengan muatan 7 hingga 15 orang, kapal ini mengayunkan kami memperlihatkan sisi lain pesisir Jakarta.

Kami juga bisa merasakan bagaimana jerih payah nelayan dengan kapal geteknya untuk mencari makan sehari-hari, menembus lautan.

Memang, kami belum biasa. Dalam pelayaran yang berdurasi 30 menit itu, kami merasakan adrenalin yang berbeda.

Dibanding menaiki kapal modern yang lebih stabil, kapal kami justru lebih senang bergoyang di tengah ombak sehingga menaikturunkan gaya pompa jantung kami lebih kencang. Aliran darah kami terasa lebih lincah akibat ombak yang bergoyang kencang.

Sesekali, beberapa dari kami berteriak ketakutan karena air laut pun mulai masuk menyelinap ke dalam kapal.

Beberapa lagi berpegangan bahu kapal. Rasa histeris menyeruak, namun kami tetap bertahan. Hingga akhirnya, kami tak tahan pula.

Area keliling berlayar kurang lebih dari pesisir hingga sekitar mercusuar Sunda Kelapa. Jarak perjalanan kurang lebih satu kilometer bulak-balik.

Namun, auman ombak sempat menghalangi langkah kami hingga dekat mercusuar itu. Karena kurang siap menghadapinya, kami pun meminta untuk putar balik sebelum dekat persis mercusuar.

Hal yang disayangkan untuk dilewati. Biar pun demikian, kami lebih sayang nyawa daripada keinginan hati.

Setidaknya, kami telah melihat tegapnya mercusuar yang masih berdiri kokoh sejak berabad-abad lalu.

Sang Nelayan pun hanya bisa tersenyum melihat ketidaksiapan kami. Dengan segala hormat, kakek tua itu, 68 tahun, terlihat bak ‘Guru Besar’ kapal getek yang melindungi kami di tengah ganasnya ombak lautan.

Lalu, ia menuntun kami kembali kepada tepi laut.

Di tengah lautan itu, kami juga melihat fenomena sosial yang tidak ada di daratan. Anak-anak pantai pemburu uang siap untuk terjun dari atas kapal kayu besar demi memperoleh sedikit keuntungan.

Mereka memohon kepada kami dengan riang untuk melemparkan uang, namun mengumpat jika tidak diberikan.

Mereka memperlihatkan keberaniannya untuk terjun dari atas geladak kapal setinggi empat meter. Kami memotret sebingkai kehidupan sosial dari pertunjukan tersebut.

Bahwa dibalik kesulitan anak-anak pesisir, masih ada ruang ceria di antara mereka, seberapapun susahnya. Ini menjadi renungan mendalam bagi kita akan pentingnya rasa bersyukur.

Satu hal yang orang tidak sangka juga adalah satwa-satwa burung yang masih tersisa.

Di tengah perkembangan kegiatan warga pesisir akan desakan kebutuhan hidup, diiringi dengan polusi dan ketimpangan sosial wilayah tersebut, satwa burung pemakan ikan masih hidup.

Mereka hidup di tengah kepungan beton-beton antara beton pelabuhan dan gedung-gedung apartemen yang mencakar langit.

Laut, bagi mereka, bukan lagi habitat, melainkan hidden gem yang membuat mereka selalu bersembunyi. Kami lah yang menemukan mereka, bukan mereka yang menemukan kami.

Keadaan itu memperlihatkan bahwa mereka semakin terhimpit atas persaingannya dengan manusia dalam mencari makan.

Begitulah potret pelayaran Sunda Kelapa yang kami lalui. Di tengah kondisi yang kekurangan, ternyata ada keunikan yang bisa diperoleh.

Kami merasakan dua sisi itu, mengambil yang baik dan membuang yang buruk.

Bahwa perjalanan bersejarah ini bukanlah sekadar jalan-jalan biasa, tetapi lebih dari itu: renungan sosial mendalam tentang makna hidup dan sejarah hari ini.

Share this post

Open chat
Hai, ada yang bisa dibantu?