Orang-orang mendatangi masjid itu dengan rasa takjub. Mereka tidak berasal dari wilayah sekitar masjid tersebut.

Sebagian dari mereka bahkan datang jauh-jauh dari daerah luar Jakarta, bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Brunei, menuju masjid tersebut jika ada hari raya besar Islam.

Tak sedikit yang datang.

Dalam perkiraan pengurus masjidnya, jumlah pengunjung yang datang bahkan bisa mencapai tiga ribu orang jika ada momen hari besar Islam.

Kedatangan mereka bukan sekadar untuk sholat.

Mereka punya ekspektasi lebih untuk meningkatkan nilai-nilai religinya; memperoleh karomah; bahkan memenuhi ekspektasi kepentingan pribadinya.

Mereka berharap masjid tersebut bisa memenuhi ruang kebatinannya.

Masjid yang Agung itu bernama Masjid Luar Batang, berlokasi di pesisir utara Jakarta belakang Museum Bahari.

Masjid Luar Batang menjadi masjid yang unik karena di dalamnya ada makam seorang tokoh Jakarta yang terkenal.

Namanya Habib Husain bin Abu Bakar Al-Aydrus. Masjid ini tidak bisa dilepaskan dari tokoh tersebut.

Kisah pendirian masjid ini diinisiasi oleh Habib Husain sebagai bentuk dari dakwah Islam.

Habib Husain merupakan seorang pendakwah Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman.

Ia bermigrasi ke Nusantara dan sampai di Batavia, tepatnya daerah luar tembok dekat Pelabuhan Sunda Kelapa.

Orang-orang menyebutnya Luar Batang. Ia mendakwahkan Islam kepada penduduk pribumi sekitar wilayah kediamannya.

Warga Luar Batang takjub dengan Habib Husain karena kharisma dan keilmuannya.

Ia dikenal sebagai orang berilmu, beradab, dan memiliki akhlak yang baik.

Karena itu, semakin banyak  warga yang menjadi pengikut Habib. Sebagai bentuk ucapan terima kasih terhadapnya, warga memberikannya sebidang tanah.

Habib yang konsisten mendakwahkan Islam mengajak para pengikutnya untuk memperkuat Keislaman sebagai jalan hidup.

Untuk itu, ia membangun surau pada tahun 1739 sebagai sarana peribadatan dan perkumpulan kaum muslim.

Pengikutnya semakin bertambah. Surau inilah yang kelak menjadi Masjid Luar Batang.

Pada waktu itu, Pemerintah kolonial Hindia-Belanda khawatir dengan gerakan Keislaman yang dibangun Habib.

Gerakan ini dikhawatirkan mengancam eksistensi kekuasaan kolonial.

Atas dasar itu, Pemerintah mengirim pasukan untuk menangkap Habib dan menjebloskannya ke penjara bersama para pengikutnya.

Mereka pun dipenjara.

Meski demikian, Pemerintah kolonial melepaskan Habib kembali karena berbagai pertimbangan.

Daripada memusuhi Habib yang bisa berujung perlawanan terhadap kolonial, lebih baik pemerintah kolonial tidak mengganggunya dan membiarkan jalan dakwahnya demi stabilitas politik.

Habib akhirnya keluar penjara dan kembali melakukan aktivitas dakwahnya.

Kisah tentang Habib Husain dan hubungannya dengan Masjid Luar Batang ini sebenarnya sudah banyak diceritakan dalam berbagai literatur.

Kita tidak membahas hal itu dalam pembicaraan ini.

Hal yang patut  kita perhatikan adalah bagaimana eksistensi Masjid itu bisa terus lestari hingga  masa kini.

Ini bisa terjadi karena para pengunjung meyakini Habib berdasarkan kisah-kisah yang beredar.

Akhlaknya yang diyakini sangat baik, diikuti dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menyebabkan dirinya memiliki kesaktian tertentu yang hanya bisa terjadi melalui izin Allah SWT.

Manusia seperti ini bisa dikatakan manusia langka.

Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mencapainya.

Komunitas Terekam Jejak berkali-kali mengunjungi Masjid Luar Batang untuk melihat langsung cagar budaya tersebut.

Dalam pengamatan, masjid itu masih terlihat baik. Gapura masjid yang waktu itu sempat dirobohkan kini sudah dibangun kembali, persis seperti desain gapura aslinya.

Makam Habib Husain juga masih terjaga dengan baik. Masih banyak orang yang mendoakannya setiap hari.

Bangunannya juga semakin rapi. Sudah ada kantor pengurus masjid, gerai usaha kecil warga sekitar, ATM, dan lahan parkir.

Masjid tersebut terasa hidup dan menghidupi warga sekitar.

Ini terbukti dengan begitu banyaknya gerai warung, makanan, kos, laundry, dan berbagai sarana kebutuhan harian lainnya yang selalu aktif di luar area masjid.

Kini, Masjid Luar Batang menjadi bagian dari wisata religi di Jakarta.

Masjid itu menjadi salah satu sandaran hidup warga sekitar, menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Bahkan, Pemerintah Jakarta telah mengakui bahwa Masjid Luar Batang sebagai cagar budaya.

Artinya, Masjid Luar Batang bukan sekadar masjid biasa, tetapi juga menjadi bangunan bersejarah yang wajib dilestarikan.

Sudah seharusnya kita semua turut serta mendukung dan melestarikan Masjid Luar Batang demi warisan sejarah yang terus ada.

Share this post

Open chat
Hai, ada yang bisa dibantu?