Kisah Jesse James dikenal sebagai kisah penjahat terkenal pada abad 19 di Amerika Serikat, namun masyarakat memujanya sebagai pahlawan rakyat. Ia dianggap sebagai ‘Robin Hood’ Amerika.
Kehadiran Jesse James merupakan sebuah sejarah menarik di bidang sosial. Ia menjadi ancaman bagi para industrialis, tetapi dipuja masyarakat, terutama kelas bawah.
Jesse lahir pada 5 September 1847 di Clay County, Missouri. Wilayah ini merupakan negara bagian budak, tapi tidak memihak Konfederasi secara jor-joran.
Saat remaja, Jesse mengalami masa Perang Saudara Amerika (1861–1865). Kakaknya, Frank James, bergabung dengan kelompok gerilyawan pro Konfederasi yang dikenal sebagai bushwhackers.
Bushwhackers diketahui sebagai kelompok yang sadis dan suka membantai warga sipil. Jesse menyusul ikut serta bertempur bersama kelompok brutal tersebut.
Pengalaman ini mempengaruhi Jesse James yang akhirnya menganggap bahwa kekerasan adalah alat; musuh tidak selalu berseragam; serta negara dalam wujud tentara dan hukum bisa menjadi penindas.
Namun, nasibnya naas. Setelah perang berakhir, mantan gerilyawan Konfederasi seperti Jesse James dicap sebagai penjahat dan diawasi ketat serta sering menjadi sasaran balas dendam.
Pada 1866, Jesse dan Frank James melakukan perampokan bank di Liberty, Missouri. Aksi ini sering disebut sebagai awal era perampokan bank modern di Amerika.
Target mereka bukan acak melainkan lembaga yang diasosiasikan dengan kepentingan Utara dan kaum industrialis.
Gerakan tersebut melahirkan Geng James Younger, kelompok kriminal yang menggabungkan mantan gerilyawan perang menjadi perampok professional dengan aktivitas merampok bank, kereta api, dan kantor ekspres di berbagai negara bagian Midwest dan Selatan.
Akan tetapi, Jesse James berbeda dari perampok lain berkat citra publiknya. Dengan bantuan jurnalis simpatik seperti John Newman Edwards, Jesse dicitrakan sebagai Robin Hood Amerika yaitu pemberontak yang melawan bank-bank rakus dan perusahaan kereta api penindas petani kecil.
Meski demikian, citra ini tidak sepenuhnya sesuai karena Jesse James belum terbukti membagikan hasil rampokannya kepada orang miskin. Perbuatannya banyak menewaskan warga sipil, pegawai bank, dan penumpang kereta api yang tidak bersalah.
Namun, masyarakat kunjung mempercayai citraan tersebut. Di wilayah Selatan yang kalah perang, Jesse menjelma jadi simbol perlawanan terhadap dominasi Utara karena dianggap mewakili dendam, harga diri, dan identitas yang dirampas oleh kemenangan Union.
Aksi Jesse James semakin brutal seiring waktu karena kejam terhadap musuh serta tanpa ragu menembak orang yang dicurigai sebagai informan.
Pemerintah dan perusahaan swasta dari Pinkerton National Detective Agency berusaha keras menangkapnya.
Upaya Pinkerton menjadi kontradiktif pada1875 ketika bom yang mereka lempar ke rumah keluarga James membunuh adik tiri dan melukai ibunya.
Peristiwa ini semakin memperkuat simpati publik terhadap Jesse dan memperdalam kebenciannya terhadap otoritas.
Pada 1876 geng JamesYounger mencoba merampok bank di Northfield, Minnesota, tapi aksi itu mengalami kegagalan. Warga setempat melawan sehingga dua anggota geng Younger tertangkap dan hanya Jesse serta Frank yang berhasil melarikan diri.
Jesse membentuk kelompok baru yang lebih kecil tetapi rasanya sudah tidak seperti dulu lagi. Pada 3 April 1882, Jesse James dibunuh oleh Robert Ford, anggota gengnya sendiri, dengan cara ditembak dari belakang kepala yang dikenal sebagai aksi “pengecut terbesar dalam sejarah barat”.
Ford berharap mendapat hadiah dan pengampunan hukum dan memang lolos dari hukuman berat, tapi dicap sebagai pengkhianat seumur hidup.
Sementara itu, Jesse James berubah menjadi legenda dan pemakamannya dihadiri ribuan orang. Balada, cerita rakyat, dan novel mengabadikan namanya sebagai simbol perlawanan.
