Bangsa Lakota atau Sioux hidup sebagai bagian dari alam di padang rumput luas yang membentang dari Sungai Missouri hingga Pegunungan Black Hills.
Tanah bukanlah milik pribadi menurut mereka, melainkan ibu pemberi kehidupan. Rumput tempat bison merumput, sungai tempat ikan berenang, dan bukit-bukit suci tempat roh leluhur bersemayam adalah kesatuan yang tak terpisahkan dari identitas Lakota.
Akan tetapi, kedamaian itu pelan-pelan hancur ketika ekspansi Amerika Serikat mulai menyatroni wilayah mereka pada abad ke-19.
Pada mulanya, orang-orang kulit putih datang sebagai pedagang dan penjelajah dengan membawa barang-barang baru, senjata api, dan cerita tentang dunia di luar padang rumput.
Seiring waktu, kedatangan itu semakin tidak terbendung dengan semboyan Manifest Destiny, yaitu keyakinan bahwa Amerika ditakdirkan untuk menguasai benua sehingga tanah Lakota yang sakral hanyalah lahan kosong yang siap diambil bagi mereka.
Konflik mulai muncul ketika jalur-jalur kereta dan benteng dibangun menembus wilayah perburuan Lakota.
Bison, sumber penghidupan utama mereka, dibantai oleh para pemburu kulit putih sebagai cara melemahkan bangsa pribumi.
Setiap bangkai bison ditinggalkan membusuk di padang rumput sebagai pesan penghancuran kehidupan pribumi secara sistematis.
Pada tahun 1868, sebuah perjanjian ditandatangani di Fort Laramie yang mengakui Black Hills sebagai wilayah suci milik Bangsa Lakota, sehingga untuk sementara perdamaian bisa tercapai.
Ketika emas ditemukan di wilayah tersebut, para penambang kemudian membanjiri wilayah tersebut dengan difasilitasi oleh tentara Amerika. Protes Lakota diabaikan dan janji pemerintah dilanggar.
Di tengah ketegangan yang semakin memuncak, muncul tokoh-tokoh perlawanan yang akan menjadi legenda.
Sitting Bull, seorang pemimpin spiritual dan kepala suku Hunkpapa Lakota, mengobarkan semangat dan simbol perlawanan terhadap penindasan.
Bersama Crazy Horse, seorang pemimpin perang yang pendiam, namun ditakuti, yang dikenal karena keberanian dan kecerdasannya dalam pertempuran.
Puncak perlawanan terjadi pada tahun 1876, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pertempuran Little Bighorn.
Sebelum pertempuran, Sitting Bull mendapatkan penglihatan spiritual dan melihat tentara Amerika jatuh seperti belalang dari langit sebagai pertanda kemenangan.
Pasukan kavaleri Amerika di bawah pimpinan Jenderal George Armstrong Custer menyerang perkemahan besar Lakota, Cheyenne, dan Arapaho.
Custer meremehkan kekuatan lawan dan terjebak dalam kesombongannya sendiri sehingga pasukannya dihancurkan.
Kemenangan ini menggema di seluruh padang rumput menjelma menjadi simbol bahwa bangsa pribumi masih mampu melawan kekuatan besar Amerika.
Namun, kemenangan itu bersifat sementara dengan respons kekuatan pemerintah yang jauh lebih besar.
Pasukan militer dikirim tanpa henti guna mengejar kelompok-kelompok Lakota sepanjang musim dingin.
Persediaan makanan yang menipis, kelangkaan bison dan tekanan yang terus meningkat memaksa kelompok-kelompok Lakota menyerah atau melarikan diri ke wilayah Kanada. Perlawanan bersenjata menjadi mustahil untuk dipertahankan dalam jangka panjang.
Pada tahun 1877, Sitting Bull mengungsi ke Kanada bersama pengikutnya.
Di sana ia berharap dapat hidup damai di bawah perlindungan pemerintah Inggris. Namun, kehidupan di pengasingan penuh kesulitan dengan kelaparan, penyakit, dan tekanan psikologis.
Setelah empat tahun, Sitting Bull akhirnya kembali ke Amerika Serikat dan menyerah demi kelangsungan hidup bangsanya.
Ia sempat bergabung dengan Buffalo Bill’s Wild West Show yaitu sebuah pertunjukan yang menghibur penonton kulit putih dengan gambaran romantis dan stereotip tentang “Indian”.
Sitting Bull tampil sebagai ikon hidup dan menerima bayaran, tapi sering menyumbangkannya kepada orang miskin.
Di atas panggung, ia diam, tetapi dalam kediaman itu tersimpan kritik keras terhadap dunia yang menjadikannya tontonan.
Pada akhir 1880-an muncul Gerakan Ghost Dance yaitu sebuah gerakan spiritual yang menjanjikan kebangkitan bangsa pribumi dan lenyapnya penindasan, sehingga pemerintah menganggapnya sebagai ancaman.
Sitting Bull, walaupun tidak aktif di Ghost Dance, tetap dianggap sebagai tokoh berbahaya karena pengaruhnya.
Pada 15 Desember 1890, pemerintah memberikan perintah untuk menangkap Sitting Bull yang kemudian berkembang menjadi kekacauan dan kegaduhan.
Sitting Bull tewas ditembak dan meninggal di tanahnya sebagai korban dari sistem yang tidak menerimanya.
Kematian Sitting Bull tetap hidup dalam ingatan kolektif sebagai legenda, simbol perlawanan, martabat, dan keberanian moral.
Sitting Bull tidak pernah berjuang demi penaklukan, tapi berjuang demi hak untuk hidup sebagai dirinya sendiri dengan tanah, bahasa, dan keyakinan yang melekat.
Nama Sitting Bull tetap dikenang dalam buku sejarah, film, dan budaya populer. Sitting Bull adalah gambaran sejarah Amerika mengenai kemajuan yang dibangun di atas pengusiran, pelanggaran perjanjian, dan pembungkaman suara.
Kisah Sitting Bull tetap relevan dalam dunia yang bergulat dengan isu keadilan dan hak masyarakat adat.
Sitting Bull menolak menyerah pada logika kekuasaan yang meniadakan martabat. Kisahnya mengingatkan bahwa kemajuan yang mengabaikan keadilan akan selalu menyisakan luka.
